Selasa, 08 Februari 2011


Galaksi-galaksi Baru Akan Terbentuk
http://1.bp.blogspot.com/_J7jNs1kpslc/TGTwB7h74BI/AAAAAAAAAC8/lw3VUL2cBxw/s320/galaksi.jpg

Galaxy Evolution Explorer milik NASA, untuk pertama kali, sejak mengorbit pada 28 April 2003, mengiden- tifikasi beberapa galaksi kerdil yang terbentuk dari zat, yang tak lebih dari gas murni seperti yang tersisa dari alam semesta sebelumnya.

Galaxy Evolution Explorer milik NASA, untuk pertama kali, mengidentifikasi beberapa galaksi kerdil yang terbentuk dari zat, yang tak lebih dari gas murni seperti yang tersisa dari alam semesta sebelumnya. Demikian hasil studi baru yang disiarkan di jurnal Nature, Kamis (18/2).

Galaksi kerdil merupakan kumpulan bintang yang relatif kecil dan sering mengorbit di sekitar galaksi yang lebih besar, seperti Galaksi Bima Sakti. Temuan tersebut mengejutkan beberapa ahli astronomi, karena sebagian besar galaksi terbentuk melalui penggabungan bahan misterius yang disebut bahan gelap atau dari logam yang berisi gas.

Bayi galaksi yang terlihat oleh Galaxy Evolution Explorer itu, terbentuk dari gas yang mengeluarkan bahan gelap dan logam. Meskipun tak pernah terlihat sebelumnya, jenis galaksi kerdil tersebut mungkin terbentuk melalui alam semesta awal dan jarak yang jauh, ketika gas murni lebih meresap, demikian laporan kantor berita resmi Tiongkok, Xinhua.

Satu tim astronom, yang dipimpin David Thilker dari Henry A Rowland Department of Physics and Astronomy di The John Hopkins University, menemukan, galaksi baru yang tak diduga sedang terbentuk di dalam Leo Ring, awan hidrogen yang sangat besar dan helium yang mengikuti jalur kasar di sekitar dua galaksi sangat besar di konstelasi Leo. Awan tebal tersebut diduga mirip objek pertama, sisa bahan kuno yang relatif tak berubah sejak hari-hari pertama alam semesta.

Lingkaran itu, yang diidentifikasi sekitar 25 tahun lalu oleh gelombang radio, tak dapat dilihat dengan cahaya penglihatan. "Objek yang menarik ini telah dipelajari selama beberapa dasawarsa dengan menggunakan teleskop kelas dunia, yang beroperasi dengan menggunakan gelombang radio dan optik," kata Thilker, seorang ilmuwan peneliti seperti dilansir Antara baru-baru ini.

"Meskipun ada usaha semacam itu, tak ada yang dideteksi kecuali gas. Tak ada bintang sama sekali, muda apalagi tua, yang ditemukan. Namun, ketika kami meneliti lingkaran tersebut dengan menggunakan Galaxy Evolution Explorer, yang sangat peka terhadap sinar ultraviolet, kami melihat bukti yang mengagumkan mengenai pembentukan bintang baru yang sangat besar. Itu benar-benar tak terduga. Kami menyaksikan galaksi yang terbentuk dari awan gas murni," katanya.

Dalam studi baru-baru ini, Thilker dan timnya mendapati tanda ultraviolet bintang muda yang berasal dari beberapa kumpulan gas di dalam Leo Ring. "Kami berspekulasi bahwa kompleks bintang muda ini adalah galaksi kerdil, meskipun, sebagaimana diperlihatkan sebelumnya oleh ahli astronomi radio, kumpulan gas itu yang membentuk galaksi ini kekurangan bahan gelap," katanya.

"Hampir semua galaksi lain yang kami ketahui didominasi oleh bahan gelap, yang bertindak sebagai benih bagi kumpulan komponen berkilauan, bintang, gas, dan debu. Apa yang kami lihat muncul di Leo Ring adalah model baru bagi pembentukan galaksi kerdil di dalam bahan yang tersisa dari kebanyakan rakitan kumpulan galaksi ini sebelumnya," katanya.

Dua Galaksi Besar

Alam semesta lokal kita berisi beberapa galaksi besar, yakni Bima Sakti dan Galaksi Andromeda, yang masing-masing memiliki ratusan miliar bintang, dan Galaksi Triangulum, dengan beberapa puluh miliar bintang. Galaksi terakhir tersebut juga memiliki lebih dari 40 galaksi yang kebanyakan kerdil, yang hanya memiliki beberapa miliar bintang.

Bahan gelap yang tidak kasat mata, yang dideteksi oleh pengaruh gravitasinya adalah komponen utama bagi galaksi raksasa dan kerdil dengan satu pengecualian, galaksi kerdil bergelombang. Galaksi kerdil bergelombang menampakkan gas yang di- daur ulang dari galaksi lain dan telah dipisahkan dari kebanyakan bahan gelap yang pada asalnya mereka berkaitan. Galaksi kerdil bergelombang itu dihasilkan ketika galaksi bertabrakan dan massa gravitasi mereka berinteraksi.

Akibat kerasnya benturan, arus bahan galaksi tertarik ke luar dari galaksi induk dan ikatan bahan gelap yang mengelilinginya. Karena galaksi tersebut kekurangan bahan gelap, galaksi baru yang terlihat di Leo Ring menyerupai galaksi kerdil yang bergelombang, tapi mereka berbeda secara mendasar. Bahan bergas yang menghasilkan galaksi kerdil yang bergelombang sudah mengelilingi satu galaksi. Bahan itu telah diperkaya dengan logam anasir yang lebih berat daripada helium, yang dihasilkan saat bintang berevolusi. "Galaksi kerdil di Leo Ring terdiri atas bahan murni tanpa logam," kata Thilker. "Temuan ini memungkinkan kami mengkaji proses pembentukan bintang pada gas yang belum diperkaya."

Awan murni yang besar dan serupa dengan Leo Ring mungkin umum di seluruh alam semesta awal, kata Thilker dan selanjutnya mungkin telah menghasilkan banyak galaksi kerdil yang kekurangan bahan gelap. 
bima sakti
Kita semua pasti tahu planet bumi yang kita tempati ini berada dalam satu tata surya dan tata surya tersebut berada dalam satu galaksi yang bernama Galaksi Bima Sakti. Jika kita memperhatikan dengan seksama di seluruh jagat raya ini ternyata tidak hanya galaksi bima sakti yang ada di jagat raya ini, ada yang namanya Galaksi Andromeda, Galaksi Bode, Galaksi Cartwheel dan masih banyak lagi, selengkapnya ada di sini. Seperti kita tahu satu galaksi ukurannya sangat sangat besar, dan jika dilihat dengan seksama lagi tata surya kita ini, ternyata bumi tidak lebih dari ukuran satu butir pasir yang ada di pantai :nerd .
Coba teman – teman bayangkan bumi seperti satu butir pasir di pantai dan kita sebagai penghuni bumi merupakan bagian kecil dari satu butir pasir tadi. Subhanallah…ternyata kita sangat sangat kecil, dan hanya DIA lah yang MAHA BESAR. Karena hanya DIA yang bisa mengatur alam yang sedemikian luas ini, tapi mata-NYA tidak pernah luput dari apapun yang kita kerjakan. Jika kita coba saja melihat galaksi bima sakti ini dengan alat paling canggihpun, saya jamin bumi tidak akan bisa terlihat.
Mungkin teman – teman sudah membayangkannya, lalu pertanyaannya kenapa masih saja ada rasa sombong, angkuh, paling berkuasa dan sikap – sikap seperti itu di dalam hati kita..? Padahal kita begitu kecil di mata-NYA dan hanya DIA lah satu – satunya yang MAHA BESAR.
Melewati postingan saya kali ini saya mengajak diri saya sendiri sekaligus teman – teman untuk kembali merenungkan siapa kita sebenarnya dan kemudian kita mulai memperbaiki diri kita lagi sebelum waktu kita tiba :) .
Menurut bentuknya galaksi dibagi menjadi empat yaitu galaksi berbentuk spiral, elips, tak beraturan, dan spiral berpalang.
1) Galaksi spiral merupakan tipe galaksi yang paling umum dikenal. Bagian utama galaksi spiral adalah halo, bidang galaksi (lengan spiral), dan bulge (bagian pusat galaksi yang menonjol). Contoh galaksi tipe ini adalah galaksi Bima Sakti dan galaksi Andromeda.


2) Galaksi elips, sesuai dengan namanya penampakannya seperti elips, tetapi bentuk sebenarnya belum diketahui. Contoh galaksi tipe elips adalah galaksi M87, yaitu galaksi elips raksasa yang terdapat di Rasi Virgo.

3) Galaksi tak beraturan, adalah tipe galaksi yang tidak simetri dan tidak memiliki bentuk khusus. Anggota dari galaksi ini terdiri atas bintang-bintang tua dan bintang-bintang muda. Contoh dari galaksi tipe ini adalah Awan Magellan Besar dan Awan Magellan Kecil, dua buah galaksi yang letaknya paling dekat dengan galaksi Bima Sakti.

4) Bentuk spiral berpalang, galaksi ini memiliki lengan-lengan spiral keluar dari bagian ujung suatu pusat, kira-kira 18% dari jumlah galaksi merupakan spiral-spiral ataupun spiral-spiral yang terpotong.

Galaksi mempunyai ciri-ciri sebagai berikut.
1) Galaksi-galaksi terlihat di luar jalur bintang Kali S
erayu, sejauh ratusan ribu, bahkan jutaan tahun cahaya dari matahari.
2) Galaksi-galaksi mempunyai cahaya sendiri, bukan cahaya fluorescensi (cahaya pantulan).
3) Galaksi-galaksi mempunyai bentuk tertentu, yang selalu mempunyai inti yang bercahaya di pusatnya, sehingga mudah untuk dikenali.
4) Jarak antargalaksi jutaan tahun cahaya.

Gerhana merupakan kejadian alam akibat dari gerakan tata surya planet-planet yang mengelilingi matahari. Selama ini kita mengenal ada dua jenis gerhana, yaitu :

  1. Gerhana Matahari, dimana matahari, bulan dan bumi berada dalam satu garis, maka daerah lintasan proyeksi matahari, bulan dan bumi mengalami gerhana matahari, dimana jika dilihat dari bumi matahari akan terhalang bulan. Suasana siang hari yang cerah saat gerhana terjadi akan berubah menjadi gelap selama 4 – 7 menit, kemudian terang kembali. Indonesia pernah mengalami gerhana matahari total pada tahun 1984. (cmiiw).
  2. Gerhana Bulan, dimana matahari, bumi dan bulan berada dalam satu garis, maka lintasan proyeksi matahari, bumi dan bulan, mengalami gerhana bulan dimana jika dilihat dari bumi bulan akan tertutup oleh bayangan bumi. Gerhana bulan terakhir yang terjadi adalah minggu lalu pada tanggal 7 – 8 September 2006.

Terjadinya Gerhana Satelit
Lalu bagaimana kejadian pada gerhana satelit ? Apakah sama seperti halnya gerhana matahari atau gerhana bulan ? Ya, filosofinya sama saja, yaitu ada objek lain yang menghalangi Bumi dengan Matahari.
Satelit, karena letak orbitnya (khususnya satelit telekomunikasi) berada diantara Bumi dan Matahari, tepatnya persis diatas garis khatulistiwa bumi kita, kira-kira berjarak 36.000 km diatas permukaan bumi. Titik orbit satelit tersebut dinamai geo stasioner orbital (GSO). Pada lintasan orbit tersebut, satelit telekomunikasi yang banyak jumlahnya itu semuanya beredar mengelilingi bumi dengan kecepatan lintasan yang relatif tetap terhadap satu titik di Bumi.
Dalam siklus satu tahun peredaran bumi mengelilingi matahari, terjadu juga pergeseran sumbu utara – selatan bumi yang berakibat seolah-olah matahari bergeser kadang ke selatan khatulistiwa dalam kurun waktu September sampai dengan Maret, dan kadang di sebelah utara khatulistiwa dalam kurun waktu Maret sampai dengan September.
Dari kejadian tersebut menyebabkan dua hal utama di Bumi. Pertama ; menyebabkan terjadinya perubahan suaca di Bumi selama kurun waktu satu tahun, terutama di daerah sub-tropis. Kedua ; menyebabkan adanya gangguan telekomunikasi sistim satelit sebanyak dua kali dalam satu tahun peredaran bumi mengelilingi Matahari. Saat matahari melintasi khatulistiwa dari Utara ke Selatan dan sebaliknya (dimana diatas khatulistiwa banyak terpasang satelit telekomunikasi, terutama satelit kita), maka dikenl dengan peristiwa Gerhana Satelit.




Posisi Bumi - Satelit - Matahari

tentang KOMET

Menurut kepercayaan orang dulu Kehadiran komet dilangit akan terjadi suatu peristiwa besar yang akan terjadi. kehadiran komet merupakan sebuah pertanda yang dikirimkan alam untuk manusia, namun seiring berjalannya waktu komet bukan lagi sebuah pertanda alam yang megrimkan suatu peristiwa yang akan terjadi, namun lebih dari itu, komet memilki sejuta mistery yang sangat mengagumkan oleh kalangan ilmuwan dan manusia sampai saat ini. Konon musnahnya peradaban dinasaurua dan peradaban maju jaman dulu tidak lain adalah karena komet yang jatuh dan menghmepaskan sgala kehidupan dimuka bumi, tak jauh jauh dari waktu itu, kalo kalian pernah membaca artikel ledakan dahsyat tunguska event di siberia awal abad 20 an menurut perkiraan ilmuwan karena adanya ledakan komet di atas angkasa yang meluluhlantakkan semua benda yang ada disana, itu merupakan sekelumit peristiwa dimuka bumi yang diakibatkan oleh kehadiran komet.

Sejak manusia mulai dapat menalar fenomena yang teramati di langit, sejak itulah perhitungan waktu di mulai. Terbit-terbenamnya Matahari, perubahan wajah Bulan yang periodik, dan penampakan planet-planet serta rasi bintang dengan beragam pola hasil imajinasi yang dapat diprediksi, kemudian dipetakan, telah memberikan pengertian pada manusia zaman dulu tentang kesempurnaan langit. Tentang betapa runtut dan teraturnya pergelaran yang dipertontonkan dalam ruang mangkuk raksasa tersebut....
Kegembiraan tengah membahana mengiringi kesuksesan misi Deep Impact dari Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA). NASA berupaya memahami evolusi Tata Surya melalui “pembedahan” inti sebuah komet. Sementara kita akan kembali sejenak ke masa silam guna merunut pandangan leluhur tentang eksistensi sebuah objek yang kita kenal sebagai lintang kemukus ini.
Berbeda tabiat dengan penghuni langit lainnya, penampakan komet yang sekonyong-konyong di kegelapan malam telah memberi inspirasi tentang kehadirannya sebagai pertanda yang dikirimkan para dewa bagi manusia. Namun, berita apakah yang hendak disampaikannya? Apa konsekuensi dari kemunculannya bagi kehidupan manusia di muka Bumi?
Beberapa budaya yang muncul dari peradaban manusia membaca pesan-pesan agung tersebut dengan mencermati seperti apa penampakan komet yang mereka lihat. Sebagai contoh bagi sebagian budaya, ekor komet memberi kesan sebagai kepala wanita dengan rambut panjang yang tergerai.

ilustrasi serangan komet jaman Dinosaurus
Simbol kedukaan mendalam ini telah dipahami sebagai cara para dewa dalam menyampaikan pesan akan datangnya bala bencana yang akan mengikuti kemunculan sang komet. Sebagian yang lain melihat juntaian ekor komet laksana pedang yang membelah angkasa, sebuah pertanda akan terjadinya peperangan dan kematian.
Budaya bertutur yang menghasilkan legenda juga menyebut-nyebut objek langit yang kehadirannya menyebarkan rasa takut ini. Sebutlah misalnya “Epic of Gilgamesh” dari bangsa Babilonia, yang di dalamnya mendeskripsikan kehadiran api dan banjir yang menyertai kehadiran komet di angkasa Bumi.
Tak jauh berbeda adalah legenda Yakut milik bangsa Mongolia kuno yang menyebut komet sebagai “saudara perempuan iblis” yang memberi peringatan tentang kehancuran, badai, dan musim dingin yang membeku ketika objek ini mendekati Bumi.
Tak semata mitos
Nyatanya, pengaruh yang ditimbulkan komet tidak semata-mata terbatas pada mitos maupun legenda yang menjadi bagian dari khasanah kebudayaan umat manusia. Komet pernah pula dituding bertanggung jawab atas tragedi terbunuhnya sang penguasa besar bangsa Romawi, Julius Caesar. Hal itu berkenaan dengan kemunculan si “Rambut Panjang” di langit sebelum terjadinya peristiwa mengenaskan tersebut.
Di daratan Inggris, komet Halley juga dikaitkan dengan peristiwa kelam “Black Death”, (black death, akan aku bahas lain waktu...), kematian besar-besaran akibat wabah sampar yang menyerang daratan Eropa. Demikian pula dalam lembaran kelam bangsa Inca di Peru yang dicatat sejarah. Penampakan komet telah menggiring mereka ke ladang pembantaian yang dilakukan pasukan penjelajah asal Spanyol di bawah pimpinan Francisco Pizarro. Yang masih aku ingat lagi tentang musnahnya peradaban peradabn hilang yang menurut perkiraan ilmuwan adalah jatuhnya komet raksaa ke bumi kita dan masih banyak lagi penafsiran segala macam musibah yang diakibatkan oleh dantangnya tamu dari ruang angkasa ini.
Meskipun berangkat dari semangat spiritual yang sama, yaitu tentang kemunculan komet sebagai cara penguasa langit berkomunikasi dengan penduduk Bumi, para pengamat langit bangsa Cina terbiasa merekam dengan rapi setiap penampakan yang terjadi. Bahkan pada era Dinasti Han sudah ditemui adanya atlas komet.

Komet Kohoutek, nama komet biasanya diabadikan oleh penemunya

Bagi bangsa Cina, pencatatan ini menjadi bernilai spiritual, karena dalam keyakinan mereka kaisar yang tidak lain adalah Putra Langit harus melangsungkan pemerintahan di Bumi dalam keharmonian dengan keteraturan yang teramati di angkasa. Karena itulah, setiap fenomena yang terjadi senantiasa dipahami sebagai persetujuan ataupun ketidaksetujuan dari penguasa di langit.
Tak ketinggalan juga dengan kemunculan komet Ikeya-Seki pada tahun 1965 yang memiliki kesan tersendiri dalam sejarah kelam perjalanan bangsa kita, terjadinya pemberontakan bersenjata di akhir masa berkuasanya Orde Lama.
Tepian tata surya
Bagaimana dengan kita yang hidup pada masa di mana ilmu pengetahuan dan teknologi mendapatkan tempat terhormatnya? Saat ini kita tahu, komet berasal dari tepian Tata Surya. Renik yang menjadi saksi bisu dalam proses pembentukan sistem keplanetan ini 4,6 miliar tahun silam.

Awan Oort yang berada jauh di luar orbit Pluto, dipercaya sebagai tempat pembiakannya. Seperti anggota Tata Surya lainnya, komet pun mengorbit Matahari. Akibat gangguan gravitasi dari bintang-bintang dekat Matahari, komet-komet tersebut dapat berubah orbitnya. Dari yang semula berada di tepian Tata Surya menjadi bermukim di Tata Surya bagian dalam menjadi komet berperiode pendek.
Ada pula yang terperangkap gravitasi planet raksasa, sehingga alih-alih mengorbit Matahari justru mengorbit planet tersebut. Ada yang secara berkala mendekati Matahari, seperti komet Tempel 1 yang menjadi target misi Deep Impact yang mendekati Matahari satu kali dalam 5,5 tahun, namun ada juga yang hanya sekali mendekati Matahari dan setelah itu tak pernah kembali.

Meskipun kini kita memiliki pandangan ilmiah tentang komet, aura ketakutan yang dibawanya masih setia menyelimuti kita hingga kini. Tengok saja kisah-kisah fiksi yang berhasil di angkat ke layar lebar dan mendulang sukses besar, seperti Deep Impact dan Armageddon .
Baru sekarang kita sadar, peristiwa tumbukan dengan benda-benda angkasa seperti yang tergambar dalam film fiksi ilmiah di atas bukanlah hal yang musykil untuk terjadi. Peristiwa tumbukan di Tata Surya antara planet Jupiter dengan komet Shoemaker-Levy 9 pada tahun 1994 silam telah membuka mata kita.
Melihat potensi yang ditimbulkannya, tidak berlebihan bila keberadaan benda-benda angkasa tersebut perlu senantiasa dipantau untuk memperoleh informasi akurat tentang perubahan orbit yang dialaminya, sehingga kita pun dapat dengan lebih baik memprediksikan kebolehjadian pertemuan dekatnya dengan Bumi dan lebih jauh lagi tindakan antisipasi bila akan terjadi tumbukan di masa depan.

Sejumlah tim yang terdiri atas astronom dari seluruh dunia saat ini tengah melakukan survei langit dengan kamera elektronik untuk menemukan NEO (Near-Earth Objects) yang sebagian diantaranya adalah komet. Komet-komet anggota NEO yang memiliki periode orbit kurang dari 200 tahun (komet-komet berperiode pendek) dikelompokkan tersendiri sebagai NEC (Near-Earth Comets).

Sebagian rahasia langit yang dulu masih menjadi teka-teki dan dibalut hal-hal yang tidak rasional memang telah berhasil kita kuak, namun jauh lebih banyak lagi yang masih berupa misteri bagi kita. Misteri tersembunyi itulah yang semakin membuat kita tertarik untuk mencebur lebih dalam lagi, karena hasrat bawaan kita. Pada hakikatnya manusia adalah makhluk yang selalu ingin tahu. Ingin memperluas wawasan, dan tentunya dengan itu menjadi manusia yang maju.

METEOR: Apa dan Bagaimana?


Beberapa waktu ini, di tanah air terjadi dua kali kejadian yang diduga sebagai peristiwa jatuhnya meteor.  Pertama terjadi di daerah Duren Sawit Jaktim pada 29 April 2010 yang lalu, dan yang kedua meteor diduga jatuh  di wilayah pegunungan Desa Ntori, Kecamatan Wawo, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB), pada Minggu (2/5) malam.
Pertanyaannya: Apa sebenaarnya meteor itu? Dari mana datangnya? dan bagaimana mensikapinya?
Pada keadaan normal, fenomena meteor bukanlah barang yang menakutkan, justru seringkali ditunggu-tunggu orang karena keindahannya. Langit menjadi tampak indah dan dinamis terutama ketika sedang terjadi hujan meteor.
“Dalang” bagi munculnya fenomena Meteor adalah satu benda langit yang bernama Meteorida. Meteorida merupakan benda-benda kecil yang mengelilingi matahari, keberadaannya baru diketahui ketika benda tersebut memasuki atmosfir bumi dan memanas karena gesekan.  Uap bercahaya yang dihasilkan nampak seperti bintang yang bergerak (jatuh) di langit, gejala inilah yang kemudian dikenal sebagai fenomena meteor. Jadi meteor lebih merupakan peristiwa, bukan benda. Tepatnya peristiwa terbakarnya batu-batu dari langit akibat gesekan dengan molekul atmosfer.
Berdasarkan asal-usulnya, meteor dibedakan menjadi tiga jenis, yakni:
  1. Meteorid Asteroidal/keplanetan: Berasal dari pecahan asteroida, orbit elips dengan periode pendek, terjadinya sewaktu-waktu atau sporadis (tidak memiliki pola periode tertentu). Asteroida adalah planet kecil/minor dengan ukuran hanya beberapa km, paling banyak dijumpai antara orbit mars dan jupiter. Jika benda-benda kecil ini terjebak masuk dalam atmosfer bumi, maka benda tersebut akan terbakar (karena bergesekan dengan atmosfir) dan memunculkan fenomena meteor.
  2. Meteorid Kekometan: Berasal dari hancuran komet dengan orbit elips yang sangat pipih dan sering berimpit dengan orbit bekas komet tertentu. Bila bumi memotong orbit kelompok meteorid ini akan terjadi hujan meteor. Hal ini karena jumlah meteorida yang begitu banyak. Meteor jenis ini dapat diprediksi kemunculanya.
  3. Meteorid Parabolis: Benda kecil yang asal mulanya belum diketahui, tetapi masuk anggota tata surya. Orbitnya mungkin terganggu oleh planet lain, sehingga masuk dalam atmosfir bumi, terbakar dan jadilah fenomena meteor.
Sejatinya setiap hari bumi kita selalu dimasuki oleh benda asing dan menyebabkan terjadinya meteor. Namun kebanykan, meteorida tersebut telah hancur menjadi debu sebelum sampai di permukaan bumi. Hal ini karena sejatinya atmosfir kita merupakan perisai yang luar biasa sehingga menyelamatkan bumi dari jatuhnya berbagai benda asing.
Hal ini berbeda dengan bulan, atau planet-planet lain yang tidak beratmosfir, hampir setiap hari “mereka” terkena jatuhan benda asing, maka di bulan banyak ditemui kawah.
Tapi kenapa dalam beberapa hari ini kita disuguhi fenomena meteor yang merusak? Kejadian jatuhnya meteor yang masih dalam bentuk bongkahan batu hingga di permukaan bumi, bukanlah peristiwa aneh. Dalam sejarah astronomi hal  itu sudah biasa terjadi. Hal ini karena ukuran asteroida yang masuk ke permukaan bumi cukup besar, sehingga atmosfir tidak mampu untuk menghancurkannya secara keseluruhan menjadi debu-debu meteor. Akibatnya, benda asing tersebut jatuh di atas permukaan bumi masih dalam bentuk bongkahan. Peristiwa semacam ini memang memiliki kecendrungan merusak, apalagi jika kejadiannya di daerah pemukiman.